Pages

Labels

Powered by Blogger.

Labels

Friday, December 27, 2013

Laki-laki atau Wanita yang memilih

Waktu saya masih kuliah di semester awal mungkin semester 2 atau 3, salah satu teman saya pernah bertanya yang kalau tidak salah begini pertanyaannya, “Laki-laki yang memilih atau wanita yang memilih?”. Maksud dari pertanyaan itu adalah apakah seorang laki-laki yang memilih seorang wanita untuk menjadi pasangan hidupnya atau sebaliknya seorang wanita yang memilih seorang laki-laki untuk menjadi pasangan hidupnya. Sebenarnya pertanyaan ini sangat sederhana untuk dicerna tapi untuk menjawabnya Anda harus membutuhkan analisis yang panjang. Saya yang ketika itu mendengar pertanyaan tersebut langsung kontan menjawab di dalam hati bahwa sebenarnya yang memilih adalah laki-laki dan saya pun yakin bahwa mayoritas dari Anda semua juga memiliki jawaban yang sama seperti saya. Kenapa saya memiliki argumen/pendapat bahwa justru pihak yang memiliki wewenang untuk memilih adalah wanita dan bukan laki-laki padahal dalam kenyataannya laki-laki lah yang berkewajiban meminang, melamar, dan menembak (menyatakan cinta). 

Di sini akan saya berikan contoh yang sekirannya bisa dijadikan ilusrtasi tersebut. Saya akan mengutip salah satu ayat Al Qur’an yaitu surah an nisa ayat 34 yang berbunyi, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita”.Kita tahu bahwa negara yang demokrasi adalah negara yang identik dengan kebebasan atas persamaan hak dan Indonesia adalah salah satunya. Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari negara demokrasi adalah adanya pemilihan umum. Pemilihan umum di sini adalah suatu perayaan yang mana rakyat menentukan nasib bangsa dengan memilih calon pemimpin. Nah bisa kita lihat bahwa pemimpin seperti presiden, kepala negara, menteri, gubernur, bupati, walikota dan lain-lain itu semua merupakan orang yang terpilih untuk menjadi pemimpin. Saya akan bertanya, apakah ada pemilu di negara mana pun yang sifatnya memilih rakyat? Tidak akan pernah ada. Yang ada adalah pemilu itu memilih pemimpin. Seperti itu pula lah dalam kehidupan rumah tangga. Wanita (kaum yang dipimpin) memilih calon pemimpinnya (laki-laki) dan bukan sebaliknya. Seperti bunyi ayat surah an nisa ayat 34 di atas sudah menegaskan bahwa pemimpin itu laki-laki. 

Emangnya ada caleg atau calon pemimpin di negeri ini yang memaksa rakyatnya untuk memilih dia? G akan pernah ada. Memilih atau tidak kan itu hak preogratif rakyat dan itu harus berasal dari hati nurani dan tanpa paksaan meskipun ia memilih golput. Ketika seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada seorang wanita, maka wanita tersebut memiliki hak untuk memberikan jawaban antara "terima atau tidak" dan pada gilirannya laki-laki hanya bisa pasrah menerima jawaban wanita tersebut. Dan perhatikan opsi pilihan hanya ada pada wanita. Maka dari itu seorang laki-laki yang bijaksana jangan pernah memaksa kehendak wanita apabila ia menolak Anda. Itu kan hak dia memilih Anda atau tidak. 

Lagi-lagi Allah memberikan peringatan atau tegur kepada seorang laki-laki yang ingin mempusakakai seorang wanita dengan jalan paksa. Masih berada di surah yang sama yakni di surah An Nisa ayat 19 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa”. Bahkan di situ disebutkan bahwa tidak halal apabila seorang laki-laki tetap memaksa untuk menikahi seorang wanita jika wanita itu tidak menerima laki-laki tersebut. Justru sebaliknya tidak ada satu pun ayat yang memberikan peringatan kepada wanita bahwa tidak dibenarkan seorang wanita mempusakai laki-laki dengan jalan paksa. 

Di sini bisa kita ambil kesimpulan sesungguhnya yang memiliki hak untuk memilih pasangan hidup adalah wanita dan bukan laki-laki walau pada dasarnya memang laki-laki yang lebih cendrung banyak mengungkapkan cintanya terlebih dahulu, berkorban demi kekasih pujaanya, melamar, memberikan mahar bahkan menikahi.

No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About