Pages

Labels

Powered by Blogger.

Labels

Blogger templates

Friday, December 27, 2013

Laki-laki atau Wanita yang memilih

Waktu saya masih kuliah di semester awal mungkin semester 2 atau 3, salah satu teman saya pernah bertanya yang kalau tidak salah begini pertanyaannya, “Laki-laki yang memilih atau wanita yang memilih?”. Maksud dari pertanyaan itu adalah apakah seorang laki-laki yang memilih seorang wanita untuk menjadi pasangan hidupnya atau sebaliknya seorang wanita yang memilih seorang laki-laki untuk menjadi pasangan hidupnya. Sebenarnya pertanyaan ini sangat sederhana untuk dicerna tapi untuk menjawabnya Anda harus membutuhkan analisis yang panjang. Saya yang ketika itu mendengar pertanyaan tersebut langsung kontan menjawab di dalam hati bahwa sebenarnya yang memilih adalah laki-laki dan saya pun yakin bahwa mayoritas dari Anda semua juga memiliki jawaban yang sama seperti saya. Kenapa saya memiliki argumen/pendapat bahwa justru pihak yang memiliki wewenang untuk memilih adalah wanita dan bukan laki-laki padahal dalam kenyataannya laki-laki lah yang berkewajiban meminang, melamar, dan menembak (menyatakan cinta). 

Di sini akan saya berikan contoh yang sekirannya bisa dijadikan ilusrtasi tersebut. Saya akan mengutip salah satu ayat Al Qur’an yaitu surah an nisa ayat 34 yang berbunyi, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita”.Kita tahu bahwa negara yang demokrasi adalah negara yang identik dengan kebebasan atas persamaan hak dan Indonesia adalah salah satunya. Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari negara demokrasi adalah adanya pemilihan umum. Pemilihan umum di sini adalah suatu perayaan yang mana rakyat menentukan nasib bangsa dengan memilih calon pemimpin. Nah bisa kita lihat bahwa pemimpin seperti presiden, kepala negara, menteri, gubernur, bupati, walikota dan lain-lain itu semua merupakan orang yang terpilih untuk menjadi pemimpin. Saya akan bertanya, apakah ada pemilu di negara mana pun yang sifatnya memilih rakyat? Tidak akan pernah ada. Yang ada adalah pemilu itu memilih pemimpin. Seperti itu pula lah dalam kehidupan rumah tangga. Wanita (kaum yang dipimpin) memilih calon pemimpinnya (laki-laki) dan bukan sebaliknya. Seperti bunyi ayat surah an nisa ayat 34 di atas sudah menegaskan bahwa pemimpin itu laki-laki. 

Emangnya ada caleg atau calon pemimpin di negeri ini yang memaksa rakyatnya untuk memilih dia? G akan pernah ada. Memilih atau tidak kan itu hak preogratif rakyat dan itu harus berasal dari hati nurani dan tanpa paksaan meskipun ia memilih golput. Ketika seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada seorang wanita, maka wanita tersebut memiliki hak untuk memberikan jawaban antara "terima atau tidak" dan pada gilirannya laki-laki hanya bisa pasrah menerima jawaban wanita tersebut. Dan perhatikan opsi pilihan hanya ada pada wanita. Maka dari itu seorang laki-laki yang bijaksana jangan pernah memaksa kehendak wanita apabila ia menolak Anda. Itu kan hak dia memilih Anda atau tidak. 

Lagi-lagi Allah memberikan peringatan atau tegur kepada seorang laki-laki yang ingin mempusakakai seorang wanita dengan jalan paksa. Masih berada di surah yang sama yakni di surah An Nisa ayat 19 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa”. Bahkan di situ disebutkan bahwa tidak halal apabila seorang laki-laki tetap memaksa untuk menikahi seorang wanita jika wanita itu tidak menerima laki-laki tersebut. Justru sebaliknya tidak ada satu pun ayat yang memberikan peringatan kepada wanita bahwa tidak dibenarkan seorang wanita mempusakai laki-laki dengan jalan paksa. 

Di sini bisa kita ambil kesimpulan sesungguhnya yang memiliki hak untuk memilih pasangan hidup adalah wanita dan bukan laki-laki walau pada dasarnya memang laki-laki yang lebih cendrung banyak mengungkapkan cintanya terlebih dahulu, berkorban demi kekasih pujaanya, melamar, memberikan mahar bahkan menikahi.

Saturday, November 16, 2013

Permasalahan poligami


Poligami dapat diartikan sebagai sistem perkawinan yang memiliki lebih dari satu pasangan baik itu istri maupun suami. Sebenarnya poligami memiliki makna yang lebih luas karena kebanyakan masyarakat salah persepsi dalam menterjemahkan makna dari kata poligami yang diartikan bahwa seorang suami memiliki lebih dari satu istri padahal sebenarnya yang mereka maksud adalah poligini. Sedangkan istilah yang digunakan untuk menyebut seorang istri yang bersuamikan lebih dari satu disebut poliandri. Saat ini poligami sudah menjadi kontroversi di masyarakat, ada yang menentang dan ada pula yang membelanya. Mayoritas wanita menentang hukum poligini tapi laki-laki sebagian menentang dan sebagian pula tidak. Saya cendrung ada di posisi pertengahan karena jika saya menentang maka saya secara tidak langsung sudah menentang hukum Allah dan jika saya mendukungnya maka saya pula sudah menyakiti hati calon istri nanti. . .hehehe
Sebelum saya masuk kepada pokok permasalahan, maka saya akan paparkan dalil atau hukum dari poligini itu sendiri yaitu ada di dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 3 yang bunyinya :
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Yang perlu digaris bawahi adalah kata, “Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat”. Dari sini bisa terlihat dengan jelah bahwa Allah mengizinkan seorang lelaki memiliki lebih dari satu wanita/istri asalkan iya mampu adil baik itu lahir maupun batin. Dan hanya Al Qur’an satu-satunya kitab suci di dunia yang menyebutkan, “Kawinilah seorang saja”. Jadi di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa poligini bukan merupakan kewajiban tapi melainkan pengecualian.
Jika poligini disyariatkan di dalam Al Qur’an, lantas bagaimana dengan poliandri?
Saya akan tunjukan pula dalil atau hukum yang menyinggung masalah poliandri. Masih di surah yang sama pada ayat 24 :

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Perhatikan kata-kata, “Dan (diharamkan juga kamu mengewini) wanita yang bersuami,” ini memberikan isyarat bahwa jika seorang lelaki menikahi seorang wanita yang bersuami maka wanita tersebut akan memiliki lebih dari satu suami, munkin dua, tiga, atau empat dan seterusnya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa hukum seorang wanita memiliki lebih dari satu suami maka hukumnya adalah haram. 
Saya akan sedikit menganalisis mengapa Al Qur’an mensyariatkan poligini tapi justru mengharamkan poliandri.
1. Jika seorang suami memiliki lebih dari satu istri, maka dalam hal ini akan dengan mudah terindentifikasi siapakah ayah dan ibu yang sah dari anak yang dilahirkan. Justru sebaliknya jika seorang istri memiliki lebih dari seorang suami, maka dalam hal ini akan menimbulkan persoalan yang besar dalam hal identifikasi orang tua si anak yang akan dilahirkan. Sperma dari suami yang manakah yang menyebabkan si istri tersebut hamil?
2. Jika seorang suami memiliki lebih dari satu orang istri (misalnya 4) maka dalam satu keluarga tersebut dalam satu tahun maksimal akan memiliki 4 anak. Jika sebaliknya seorang istri memiliki lebih dari satu suami (misalnya 4) maka dalam kurun waktu satu tahun pula maksimal seorang istri hanya memiliki seorang anak. Dan apakah rahim seorang wanita akan sehat jika dimasuki oleh berbagai jenis sperma yang berbeda ? Ini memandakan bahwa poliandri akan sangat berpotensi terjadinya kepunahan regenerasi manusia jika setiap tahun saja hanya mehirkan satu bayi. Berbanding terbalik jika poligini yang diterapkan maka kelestarian manusia akan terus berlanjut karena jumlahnya lebih banyak yakni 4 bayi maksimal setiap tahun. 
3. Nasab seorang anak itu ditentukan oleh garis keturunan ayah dan bukan garis keturunan ibu. Misalkan Muhammad bin Abdullah yang artinya bahwa Muhammad adalah anak dari si Abdullah( ayah), Umar bin Khattab yang artinya Umar adalah anak dari si Khattab (ayah), Usman bin Affan yang artinya Usman adalah anaknya si Affan (ayah), Fatimah binti Muhammad yang artinya Fatimah anaknya Muhammad (ayah) dan seterusnya. Anda bisa bayangkan jika poliandri diterapkan makan akan merusak nasab si anak. Apakah mungkin jika dalam nama si anak akan tercantum nama ayahnya semuanya misalkan Yusuf bin A bin B bin C dan bin D. Jika poligini yang diterapkan maka masalah tersebut tidak akan pernah ada.
4. Saya bukanlah ahli tafsir atau syeikh yang bagitu paham dan mendalami isi Al Qur’an, tapi saya menyakini bahwa Al Qur’an itu merupakan kitab suci yang sejalan dengan perkembangan zaman bahwa kitab suci umat islam tersebut sudah memprediksi bahwa jumlah wanita akan lebih banyak atau 1 berbanding 4 perempuan atau bahkan lebih diakhir zaman nanti sebagaimana dengan ayat yang menyinggung masalah poligini tersebut. Jika telah memasuki usia manula, maka akan kita dapati bahwa jumlah janda lebih banyak dari pada duda. Jumlah laki-laki lebih sedikit dari pada wanita. TNI, Polri, supir angkot, kuli bangunan, penyelam, nelayan, pilot, nahkoda kapal, merupakan pekerjaan yang sangat beresiko akan kematian justru mayoritas diisi oleh kaum laki-laki dan tentu kaum lelaki jumlahnya lebih sedikit. Banyak hal yang menyebabkan mengapa laki-laki lebih sedikit dari pada wanita. Mulai dari tingkat resiko pekerjaan, kesehatan, pola pikir dan lain lain. Jika hukum poligami tidak ada atau satu laki-laki hanya untuk satu wanita, lantas bagaimana dengan nasib wanita lain yang jumlahnya lebih banyak? Tentu mereka tidak akan pernah menikah apalagi mempunyai pasangan
5. Saya akan tampilkan satu ayat yang masih berhubungan dengan poligami yaitu masih di surah yang sama surah An Nisa ayat 34 yang berbunyi :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Disini Allah menyebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita dan itu berarti bahwa wanita adakah kaum yang dipimpin oleh laki-laki. Apakah mungkin seorang pemimpin memiliki banyak rakyat? Wajar sekali karena di setiap negara di dunia ini tidak ada yang memiliki rakyat hanya satu alias lebih dari satu. Tapi apakah mungkin seorang rakyat dipimpin oleh lebih dari satu pemimpin? Jawabanya adalah mustahil
Contoh lain, jika kita mengamati angkutan umum misalnya saja bus, kita akan mendapati bahwa hanya ada satu supir saja yang mengendalikan bus tersebut dan kita akan dapati pula bahwa akan ada lebih dari satu penumpang yang akan ada di belakang sopir tersebut. Maka bus tersebut tidak akan menimbulkan masalah. Jika sebaliknya seorang penumpang dikendalikan lebih dari satu sopir bus, otomatis setiap sopir memiliki cara dan teknik yang berbeda dalam mengoperasikan bus dan itu sungguh mustahil diterapkan. Nah begitu pulalah dengan poligami. Poligini masih bisa diterapkan di masyarakat tapi poliandri mustahil bisa diterapkan
Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ilmu Allah itu sangat tidak terbatas dan manusia adalah mahluk yang pengetahuannya terbatas. Janganlah pernah berpikir bahwa dengan di syariatkannya poligini dan diharamkannya poliandri lantas dengan tegas dikatakan bahwa Allah tidak adil terutama kepada wanita dan hanya berpihak pada laki-laki. Sama sekali itu bukan tujuan utama Allah. Jika Anda berpikir dengan cernih maka akan Anda dapati hikmah besar di balik itu semua. Bahwa Al Qur’an itu benar-benar firman Allah yang tidak sama sekali bertentangan dengan zaman maupun manusia.

Wallahualam bissawab

Sebuah catatan seorang mahasiswa

Wednesday, October 30, 2013

Niat Bukan di Lisan


Saya akan sedikit cerita (bukan ingin riya) pengalaman yang saya dapatkan selama di tanah haram. Waktu itu tahun 2011 almarhum bapak masih hidup jadi alhamdulilah karena izin Allah saya diberikan kesempatan untuk berkunjung. Selain ibadah yang begitu luar biasa, saya juga mendapatkan pengalaman & pengetahuan yang tidak ternilai. Saya mendapati bahwa ibadah orang muslim di setiap negara sedikit mengalami perbedaan. 

Dulu saya memiliki pemikiran yang konservatif artinya saya akan trus mempertahankan apa yang saya pegang tanpa memperdulikan itu terlebih dahulu apakah benar atau salah. Efeknya dari pemikiran ini bahwa saya akan mengecap bahwa segala sesuatu yang ada diluar kendali/apa yang saya pegang adalah salah. Contohnya ketika orang Arab Saudi sholat tanpa harus mengucapkan niat, saya seratus persen waktu itu juga memvonis bahwa orang arab tersebut tidak sah sholatnya karena niatnya tidak ia lafadzkan. Karena pada waktu itu saya menganut bahwa melafadzkan niat itu adalah wajib hukumnya. Dan itulah dampak dari pemikiran konservatif yang saya miliki selama kurang lebih 21 tahun memeluk islam semenjak lahir.

 Tapi setelah saya berpikir dan mengamati ibadah orang muslim negara-negara lainnya, saya mendapati bahwa kecendrungan mereka tidak melafadzkannya. Akhirnya saya berkata didalam hati, “Apa mungkin sih sholat mereka tidah sah? Sedangkan ini saja tanah haram dimana mula-mula islam lahir dan berkembang”? “Bahasa arab adalah bahasa mereka. Mereka mempelajari ilmu fiqh dan hafal al-quran dan otomatis kecendrungan mereka untuk salah sangat kecil. Sedangkan saya bukan lah orang arab, tidak bisa berbahasa arab, tidak hafal al-quran dan tidak paham fiqh dan otomatis pula saya lebih berpotensi salah. 

Setelah pulang ke tanah air, saya masih terpikir mengenai perbadaan yang saya dapati. Saya masih bertannya, “Mereka atau saya yang benar?” tanpa berpikir panjang saya pun membuka google dan membaca buku tentang masalah fiqh. Dan akhirnya saya temui bahwa “Melafadzkan niat itu tidak ada dalilnya sama sekali baik di dalam al quran maupun hadist. Di satu sisi saya terkejut dan kecewa bahwa yang selama ini saya pegang adalah salah tapi di sisi yang lain  saya merasa senang karena menemukan suatu pengetahuan baru. 

Mulai saat itu, saya akan merubah cara berpikir saya yang tadinya konservatif berubah menjadi kriitis. Pemikiran kritis berarti bahwa kecendrungan untuk menganalisa sesuatu dengan arti bahwa jangan terlalu cepat mengkonsumsi suatu konsep, terminology, doktrin, atau pemikiran tanpa diketahui terlebih dahulu sumber dan keabsahaannya. Dan menurut saya pemikiran kritis itu lebih baik dan lebih kepada sikap rendah diri dan cepat menyadari kesalahan. Kalau memang niat mesti dilafadzkan, maka akan menimbulkan beberapa permasalahan :

1. Mengapa niat hanya dilafadzkan ketika sholat? Mengapa dalam hal bekerja, menuntut ilmu, makan, minum, mengaji, umroh, wudhu dan ibadah-ibadah lainnya niat tidak dilafadzkan? Intinya kenapa hanya dikhususkan saja untuk ibadah sholat, emangx ibadah lain tidak pakai niat?

2. Jika niat dilafadzkan berarti Anda merusak keindahan ibadah itu sendiri. Sesuatu dikatakan indah harus memiliki dua sifat yaitu indah dipandang oleh mata dan sesuai pada tempatnya. Contoh kalau rumah Anda bersih maka akan terlihat indah dan sebaliknya jika rumah Anda kotor maka tidak sedap dipandang mata. Contoh kedua kalau Anda pergi ke pesta pernikahan dan Anda mengenakan pakaian renang, maka Anda akan terasingkan dan akan ditertawakan oleh para tamu undangan lainnya karena Anda menggunakan pakaian yang tidak sesuai pada tempatnya. Yang jadi masalah adalah bukan pakaian renang yang Anda pakai, tapi yang menjadi masalah adalah Anda mengenakan pakaian itu tidak pada tempatnya yaitu pesta pernikahan. Kalau Anda mengenakannya di kolam renang baru dikatakan indah. Begitu pula lah dengan niat. Jika Anda melafadzkannya melalui lisan/mulut, maka secara tidak langsung Anda sudah merusak yang namanya keindahaan. Anda telah memindahkan tempat bersemayamnya niat yang tadinya di hati dilarikan ke lisan/mulut. Semua orang setuju bahwa niat letaknya bukan di mulut tapi dihati (Qolbu). 

3. Harus berapa ribu kali Anda harus melafadzkan niat jika setiap hari Anda mesti sholat, berpuasa, mengaji, sekolah, kuliah, makan, minum, tidur dan lain-lain. Anda bisa bayangkan berapa kali mulut kita ini mesti berkomat-kamit hanya untuk melafadzkan itu. Berapa waktu Anda mesti terbuang hanya untuk melakukan itu semua. Bukan kah semua itu ibadah. Kan tidak begitu cara pemikiran yang benar

4. Kalau memang niat itu dilafadzkan adalah perbuatan yang baik, tentu Nabi adalah orang pertama yang menunaikan itu. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali adalah para sahabat nabi adalah orang terdekat beliau dimana mereka hidup selalu bersama beliau. Jadi dari A sampai Z apa yang beliau lakukan mereka melihatnya. Jika memang malafadzkan niat itu baik, pasti para sahabat nabi tersebut tidak akan ketinggalan untuk mengamalkannya pula. Kalau memang seperti itu buktinya, bagaimana mungkin kita yang hidup diakhir zaman bisa melakukan amalan itu. Tentu saja kita lebih berpotensi salah dari pada orang-orang terdahulu. Dan juga kalau itu amalan yang baik, apa mungkin nabi menyembunyikannya?

5. Kalau orang non muslim saja tidak bisa dibohongi apa mungin kita bisa membohongi Allah?
Secara tidak langsung bahwa orang-orang yang menganut melafadzkan niat adalah orang yang terinfeksi penyakit diatas. Mereka beranggapan bahwa ketika niat tidak dilafadzkan Allah tidak mengetahui maksud seseorang. Tentu itu bertentangan dengan banyak ayat Al-quran yang berbunyi tentang masalah hati seperti di Surah Al Mulk ayat 13. 

Lima hal di atas sudah bisa saya jadikan hujjah untuk menolak melafadzkan niat
Sebuah catatan seorang mahasiswa yang minim pengetahuan

Monday, October 21, 2013

Prioritaskan proses terlebih dahulu

Di dalam hidup ini manusia dihadapkan dengan berbagai macam proses kehidupan. Proses itu dapat bersifat alami maupun proses yang ada campur tangan manusia didalamnya. Segala apa yang ada di alam semesta ini tidak lah tercipta dengan “Simsalabim” tentu ada penciptanya yaitu sang pencipta. Saya 100 % haram percaya dengan teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya. Tentu orang bodoh pun tak mau percaya dengan dongeng orang-orang atheis tersebut.

Dalam menciptakan suatu materi, tentu sang pencipta memasukan dua elemen didalamnya yaitu proses dan hasil yang kemudian akan menciptakan suatu materi atau objek yang baru seperti alam semesta, langit, bintang, manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain.

Apapun yang berhasil diciptakan, ditemukan, diselesaikan dan diraih oleh seorang individu (manusia), tentu mengalami berbagai macam proses. Ada yang singkat maupun yang lama. Apa pun itu tanpa memperdulikan sesuatu yang diinginkan tersebut. Hukum ini berlaku selama manusia masih ada di planet bumi ini. Alasan saya menulis sedikit coretan disini bahwa ada suatu hal yang menurut saya sebaiknya dibenahi atau dirubah dalam aspek berpikir manusia.

Hasil dari pengamatan saya (saya bukan seorang peneliti) bahwa manusia di sekitar saya cendrung memprioritaskan hasil dari pada proses. Saya yang saat ini masih berstatus sebagai seorang mahasiswa tentu mengalami fenomena semacam ini. Mayoritas orang tua selalu bertanya kepada anaknya yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, “Nak, kapan kamu selesai kuliah?” atau “Kamu kuliah tinggal berapa semester lagi?”. Saya termasuk orang yang cukup jengkel ketika mendengar pertanyaan seperti itu. Seakan akan pendidikan dimasa kini sudah merupakan tuntutan yang begitu berat bagi mahasiswa dan bukan merupakan suatu kebutuhan dalam menuntut ilmu. Para orang tua hanya bangga ketika sang anak lulus diwisuda dan meraih gelar akademik. Mereka (mahasiswa red) terus menerus didesak oleh hasil. Hampir jarang sekali kita mendengar para orang tua melemparkan pertanyaan seperti, “Nak, bagaimana kuliah kamu?” atau “Gimana kuliah kamu baik-baik saja?”. Kalau pertanyaan ini kan sedikit lebih enak kalau dikonsumsi. Kalau pun kita pernah mendengar pertanyaan tipe ke dua tapi sangat jarang sekali terdengar.

Ada sepasang suami istri sedang berbahagia dengan hamilnya sang istri dan itu menandakan bahwa akan ada kehadiran calon bayi bagi mereka. Ketika berita tersebut tersebar ke keluarga suami istri, rekan kerja, teman sekolah dulu, tetangga dan lain, maka secara spontan sang istri mendapatkan hujan pujian bak durian runtuh. Saking senangnya mereka sampai-sampai mengelus perut si istri. Tapi apakah ada yang memberikan pujuan untuk sang suami? Padahal yang bekerja keras adalah sang suami. .  

Andaikan saja Anda adalah seorang pedagang roti dan Anda telah beroperasi menjajakan dagangan kurang lebih 5 tahun dan belum juga berkembang alias stagnan. Kemudian saya menghampiri Anda dan memberikan pertanyaan, “Pak/Bu, kok hasil jualannya tidak mengalami peningkatan? Kalau begini terus kapan ibu bisa jadi pengusaha roti yang sukses?”. Saya yakin bapak/ibu yang sedang berjualan roti tersebut akan sedikit tersinggung dengan pertanyaan saya tadi karena yang saya fokuskan hanyalah hasil usaha mereka saja dan saya tidak memperhatikan bagaimana mereka membangun usaha dengan berjualan roti tersebut.

Kita tidak pernah melihat bagaimana Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, David Beckham, Steven Gerrad dan lain-lain menjadi pesepakbola dunia yang hebat. Yang kita lihat dari aksi memukau mereka di lapangan hijau saat ini merupakan hasil dari tempaan dan latihan yang berkesinabungan yang mereka tekuni semenjak kecil. Kehebatan mereka tidaklah lahir secara sempontan tapi merupakan sebuah proses yang begitu panjang. 

Dari contoh diatas memiliki kesamaan konsep dan teori yaitu manusia cendrung pada hasil dan bukan pada proses. Mereka mayoritas berfilosofi bahwa yang penting itu adalah hasil dan bukan proses. Saya bukan bermaksud mengkritisi bahwa hasil itu tidak penting dan yang penting adalah proses. Malahan saya berpikir hasil dan proses merupakan dua unsur yang sama-sama penting bagaikan atom bermuatan positif dan atom yang bermuatan negatif yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat terpisahkan. Jika hanya ada atom positif saja atau sebaliknya maka listrik tidak akan pernah ada. Tapi alangkah baiknya Anda lebih memprioritaskan proses dulu baru kemudian hasil.

Maaf kalau tulisan ini banyak yang kurang dan agak sedikit ngawur. .


Monday, September 16, 2013

Diet vs Puasa



    


          Saya bukanlah seorang professor atau seorang yang sangat paham tentang kesehatan. Tapi saya seorang yang berusaha untuk menganalisis sesuatu yang saya anggap penting bagi diri saya pribadi maupun orang lain. Akhir akhir ini tengah booming sebuah metode program diet kontroversial yang dipopulerkan oleh seorang mentalist ternama dan sekaligus presenter Deddy Corbuzier. Saya bukannya tidak suka dengan program diet tersebut tapi saya hanya mencoba mengkritisi dan tidak bermaksud untuk menyudutkan konsep diet tersebut. Para pakar gizi dan nutrisi IPB Bogor mengatakan bahwan program OCD hanya cocok diterapkan untuk orang gemuk saja dan sangat tidak cocok untuk diterapkan bagi orang kurus. Orang yang memiliki kelebihan tubuh maka dalam jumlah tertentu lemak memang harus dipangkas. Sedangkan untuk orang yang kurus cendrung memiliki sedikit lemak, bahkan kurang dari yang dibutuhkan. Jika lemak itu dipangkas, bisa-bisa malah akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Saya bukanlah orang yang sangat fanatik terhadap agama islam atau saya ingin mendiskriminasi agama lain atau ajaran dan kepercayaan lain. Saya justru terlahir kedunia ini dengan kebodohan yang begitu mendalam. Dari situlah saya berusaha belajar dari hari ke hari untuk mengetahui fenomena-fenomena alam sekitar yang belum saya ketahui. 
 
            Didalam Islam, puasa merupakan rukun islam yang keempat dan merupakan salah satu ajaran yang diabadikan didalam kitab suci Al Quran tepatnya di surah Al Baqarah ayat 183. Bunyi ayat tersebut sudah sangat familiar apalagi ketika bulan suci Ramadhan tiba. Bagi yang belum tahu silahkan buka saja Al quran dan kalau tidak punya silahkan browse saja di google. . .wkwkwkw. Jika di agama atau kepercayaan lain saya tidak tahu dalilnya dari ayat yang keberapa karena saya bukanlah penganut banyak agama.
Saya hanya akan memberikan terjemahan dalam bahasa Indonesianya saja yaitu : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”


          Ayat diatas tidak menyebutkan makanan apa saja yang dilarang ketika berpuasa. Ayat tersebut juga tidak menyebutkan criteria umur berapa saja yang baik untuk menunaikan ibadah puasa. Liat saja ketika ayat tersebut dimulai dengan menyeru, “Hai orang-orang yang beriman”. Ayat tersebut tidak menyebutkan, “Hai orang-orang arab, Hai orang-orang islam, Hai orang-orang pintar, Hai orang-orang bujangan (belum menikah), Hai para manusia manula, Hai orang-orang gemuk, Hai para remaja dan lain”. Ini mendeskripsikan bahwa puasa sifatnya universal tanpa memperdulikan dia berada diumur berapa, bangsanya apa, sukunya apa, sudah menikah atau belum dan lain-lain. Banding dengan diet yang hanya cendrung cocok hanya untuk orang yang memiliki masa tubuh yang berlebihan (kegemukan)

          Mari kita liat ayat tersebut ditutup dengan bunyi “agar kamu bertaqwa”. Ini menggambarkan bahwa ayat tersebut meninggalkan pesan bahwa puasa itu akan mengakibatkan seseorang itu menjadi taqwa. Taqwa itu memiliki dimensi makna yang begitu luas. Taqwa itu bisa berarti perubahan karakter, sikap, pola pikir, mental, fisik, maupun spiritualnya. Berbeda dengan diet yang hanya berfungsi untuk menurunkan berat badan dan mengatur pola makan saja namun setelah program dietnya selesai apa boleh dia berbuat dosa? Siapa yang melarang. 

          Saya dan Anda pun akan setuju bahwa orang-orang hebat seperti Einstein, Thomas Alva Edison, Ir. Soekarno, Obama dan lain-lain itu kan punya otak yang cerdas tapi saya dan Anda akan lebih setuju lagi bahwa tentu akan lebih cerdas lagi yang menciptakan otak mereka yang super cerdas tersebut yakni tuhan. Puasa itu kan konsep dari kitab suci yang turun dari tuhan dan itu sungguh MUSTAHIL 101 % ada efek sampingnya. Puasa sudah didisain secara khusus untuk cocok kepada semua bangsa, suku, umur, ras, dan jenis kelamin.



          Saya akan berikan beberapa alasan mengapa puasa lebih baik dari pada diet :
1. Jika Anda sedang berpuasa apakah Anda boleh mencuri? Dalam hal ini puasa Anda tidak bernilai ibadah karena Anda sudah merusaknya dengan melakukan tindak kriminal. Tapi jika Anda sedang diet apakah Anda boleh mencuri? Siapa yang melarang Anda tidak boleh mencuri karena yang namanya diet kan menahan asupan makan bukan menahan diri dari tindak pencurian. Ingat saya tidak mengajarkan Anda untuk mencuri sekarang juga. Kwkwkwkwk
2. Jika Anda sedang berpuasa apakah Anda boleh berzina? Dalam hal ini juga puasa Anda tidak bernilai ibadah karena Islam tidak membenarkan seseorang melakukan hubungan seksual di siang hari walaupun yang melakukannya adalah pasangan suami istri yang sah. Tapi jika Anda sedang diet apakah Anda boleh melakukan zina? Siapa yang melarang Anda melakukan zina lantaran diet merupakan metode penurunan berat badan dengan menahan asupan makanan saja . 

          Dari sini sudah terlihat bahwa diet masih memiliki banyak kekurangan dari berbagai macam sisi dimensi kemanusiaan. Tapi bagi yang ingin melakukannya silahkan saja kerena dampak positifnya juga banyak untuk menunjang kesehatan tubuh kita. Karena pada teorinya diet hanya menahan asupan makan saja artinya yang dilatih hanyalah fisiknya saja tapi tidak untuk rohani dan spiritualnya. Akan nampak berbeda dengan teori puasa bahwa yang dilatih tidak hanya jasmani tapi juga rohani dan spiritual. Jika diet saja baik buat kesehatan mengapa tidak menerapkan suatu konsep yang lebih baik dari pada diet?
“Jika konsep manuasia itu hebat untuk sesama manusia pasti konsep tuhan pasti akan lebih SPEKTAKULER bagi ciptaannya” setuju?
 

Blogger news

Blogroll

About