Pages

Labels

Powered by Blogger.

Labels

Monday, October 21, 2013

Prioritaskan proses terlebih dahulu

Di dalam hidup ini manusia dihadapkan dengan berbagai macam proses kehidupan. Proses itu dapat bersifat alami maupun proses yang ada campur tangan manusia didalamnya. Segala apa yang ada di alam semesta ini tidak lah tercipta dengan “Simsalabim” tentu ada penciptanya yaitu sang pencipta. Saya 100 % haram percaya dengan teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya. Tentu orang bodoh pun tak mau percaya dengan dongeng orang-orang atheis tersebut.

Dalam menciptakan suatu materi, tentu sang pencipta memasukan dua elemen didalamnya yaitu proses dan hasil yang kemudian akan menciptakan suatu materi atau objek yang baru seperti alam semesta, langit, bintang, manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain.

Apapun yang berhasil diciptakan, ditemukan, diselesaikan dan diraih oleh seorang individu (manusia), tentu mengalami berbagai macam proses. Ada yang singkat maupun yang lama. Apa pun itu tanpa memperdulikan sesuatu yang diinginkan tersebut. Hukum ini berlaku selama manusia masih ada di planet bumi ini. Alasan saya menulis sedikit coretan disini bahwa ada suatu hal yang menurut saya sebaiknya dibenahi atau dirubah dalam aspek berpikir manusia.

Hasil dari pengamatan saya (saya bukan seorang peneliti) bahwa manusia di sekitar saya cendrung memprioritaskan hasil dari pada proses. Saya yang saat ini masih berstatus sebagai seorang mahasiswa tentu mengalami fenomena semacam ini. Mayoritas orang tua selalu bertanya kepada anaknya yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, “Nak, kapan kamu selesai kuliah?” atau “Kamu kuliah tinggal berapa semester lagi?”. Saya termasuk orang yang cukup jengkel ketika mendengar pertanyaan seperti itu. Seakan akan pendidikan dimasa kini sudah merupakan tuntutan yang begitu berat bagi mahasiswa dan bukan merupakan suatu kebutuhan dalam menuntut ilmu. Para orang tua hanya bangga ketika sang anak lulus diwisuda dan meraih gelar akademik. Mereka (mahasiswa red) terus menerus didesak oleh hasil. Hampir jarang sekali kita mendengar para orang tua melemparkan pertanyaan seperti, “Nak, bagaimana kuliah kamu?” atau “Gimana kuliah kamu baik-baik saja?”. Kalau pertanyaan ini kan sedikit lebih enak kalau dikonsumsi. Kalau pun kita pernah mendengar pertanyaan tipe ke dua tapi sangat jarang sekali terdengar.

Ada sepasang suami istri sedang berbahagia dengan hamilnya sang istri dan itu menandakan bahwa akan ada kehadiran calon bayi bagi mereka. Ketika berita tersebut tersebar ke keluarga suami istri, rekan kerja, teman sekolah dulu, tetangga dan lain, maka secara spontan sang istri mendapatkan hujan pujian bak durian runtuh. Saking senangnya mereka sampai-sampai mengelus perut si istri. Tapi apakah ada yang memberikan pujuan untuk sang suami? Padahal yang bekerja keras adalah sang suami. .  

Andaikan saja Anda adalah seorang pedagang roti dan Anda telah beroperasi menjajakan dagangan kurang lebih 5 tahun dan belum juga berkembang alias stagnan. Kemudian saya menghampiri Anda dan memberikan pertanyaan, “Pak/Bu, kok hasil jualannya tidak mengalami peningkatan? Kalau begini terus kapan ibu bisa jadi pengusaha roti yang sukses?”. Saya yakin bapak/ibu yang sedang berjualan roti tersebut akan sedikit tersinggung dengan pertanyaan saya tadi karena yang saya fokuskan hanyalah hasil usaha mereka saja dan saya tidak memperhatikan bagaimana mereka membangun usaha dengan berjualan roti tersebut.

Kita tidak pernah melihat bagaimana Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, David Beckham, Steven Gerrad dan lain-lain menjadi pesepakbola dunia yang hebat. Yang kita lihat dari aksi memukau mereka di lapangan hijau saat ini merupakan hasil dari tempaan dan latihan yang berkesinabungan yang mereka tekuni semenjak kecil. Kehebatan mereka tidaklah lahir secara sempontan tapi merupakan sebuah proses yang begitu panjang. 

Dari contoh diatas memiliki kesamaan konsep dan teori yaitu manusia cendrung pada hasil dan bukan pada proses. Mereka mayoritas berfilosofi bahwa yang penting itu adalah hasil dan bukan proses. Saya bukan bermaksud mengkritisi bahwa hasil itu tidak penting dan yang penting adalah proses. Malahan saya berpikir hasil dan proses merupakan dua unsur yang sama-sama penting bagaikan atom bermuatan positif dan atom yang bermuatan negatif yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat terpisahkan. Jika hanya ada atom positif saja atau sebaliknya maka listrik tidak akan pernah ada. Tapi alangkah baiknya Anda lebih memprioritaskan proses dulu baru kemudian hasil.

Maaf kalau tulisan ini banyak yang kurang dan agak sedikit ngawur. .


No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About