Pages

Labels

Powered by Blogger.

Labels

Wednesday, October 30, 2013

Niat Bukan di Lisan


Saya akan sedikit cerita (bukan ingin riya) pengalaman yang saya dapatkan selama di tanah haram. Waktu itu tahun 2011 almarhum bapak masih hidup jadi alhamdulilah karena izin Allah saya diberikan kesempatan untuk berkunjung. Selain ibadah yang begitu luar biasa, saya juga mendapatkan pengalaman & pengetahuan yang tidak ternilai. Saya mendapati bahwa ibadah orang muslim di setiap negara sedikit mengalami perbedaan. 

Dulu saya memiliki pemikiran yang konservatif artinya saya akan trus mempertahankan apa yang saya pegang tanpa memperdulikan itu terlebih dahulu apakah benar atau salah. Efeknya dari pemikiran ini bahwa saya akan mengecap bahwa segala sesuatu yang ada diluar kendali/apa yang saya pegang adalah salah. Contohnya ketika orang Arab Saudi sholat tanpa harus mengucapkan niat, saya seratus persen waktu itu juga memvonis bahwa orang arab tersebut tidak sah sholatnya karena niatnya tidak ia lafadzkan. Karena pada waktu itu saya menganut bahwa melafadzkan niat itu adalah wajib hukumnya. Dan itulah dampak dari pemikiran konservatif yang saya miliki selama kurang lebih 21 tahun memeluk islam semenjak lahir.

 Tapi setelah saya berpikir dan mengamati ibadah orang muslim negara-negara lainnya, saya mendapati bahwa kecendrungan mereka tidak melafadzkannya. Akhirnya saya berkata didalam hati, “Apa mungkin sih sholat mereka tidah sah? Sedangkan ini saja tanah haram dimana mula-mula islam lahir dan berkembang”? “Bahasa arab adalah bahasa mereka. Mereka mempelajari ilmu fiqh dan hafal al-quran dan otomatis kecendrungan mereka untuk salah sangat kecil. Sedangkan saya bukan lah orang arab, tidak bisa berbahasa arab, tidak hafal al-quran dan tidak paham fiqh dan otomatis pula saya lebih berpotensi salah. 

Setelah pulang ke tanah air, saya masih terpikir mengenai perbadaan yang saya dapati. Saya masih bertannya, “Mereka atau saya yang benar?” tanpa berpikir panjang saya pun membuka google dan membaca buku tentang masalah fiqh. Dan akhirnya saya temui bahwa “Melafadzkan niat itu tidak ada dalilnya sama sekali baik di dalam al quran maupun hadist. Di satu sisi saya terkejut dan kecewa bahwa yang selama ini saya pegang adalah salah tapi di sisi yang lain  saya merasa senang karena menemukan suatu pengetahuan baru. 

Mulai saat itu, saya akan merubah cara berpikir saya yang tadinya konservatif berubah menjadi kriitis. Pemikiran kritis berarti bahwa kecendrungan untuk menganalisa sesuatu dengan arti bahwa jangan terlalu cepat mengkonsumsi suatu konsep, terminology, doktrin, atau pemikiran tanpa diketahui terlebih dahulu sumber dan keabsahaannya. Dan menurut saya pemikiran kritis itu lebih baik dan lebih kepada sikap rendah diri dan cepat menyadari kesalahan. Kalau memang niat mesti dilafadzkan, maka akan menimbulkan beberapa permasalahan :

1. Mengapa niat hanya dilafadzkan ketika sholat? Mengapa dalam hal bekerja, menuntut ilmu, makan, minum, mengaji, umroh, wudhu dan ibadah-ibadah lainnya niat tidak dilafadzkan? Intinya kenapa hanya dikhususkan saja untuk ibadah sholat, emangx ibadah lain tidak pakai niat?

2. Jika niat dilafadzkan berarti Anda merusak keindahan ibadah itu sendiri. Sesuatu dikatakan indah harus memiliki dua sifat yaitu indah dipandang oleh mata dan sesuai pada tempatnya. Contoh kalau rumah Anda bersih maka akan terlihat indah dan sebaliknya jika rumah Anda kotor maka tidak sedap dipandang mata. Contoh kedua kalau Anda pergi ke pesta pernikahan dan Anda mengenakan pakaian renang, maka Anda akan terasingkan dan akan ditertawakan oleh para tamu undangan lainnya karena Anda menggunakan pakaian yang tidak sesuai pada tempatnya. Yang jadi masalah adalah bukan pakaian renang yang Anda pakai, tapi yang menjadi masalah adalah Anda mengenakan pakaian itu tidak pada tempatnya yaitu pesta pernikahan. Kalau Anda mengenakannya di kolam renang baru dikatakan indah. Begitu pula lah dengan niat. Jika Anda melafadzkannya melalui lisan/mulut, maka secara tidak langsung Anda sudah merusak yang namanya keindahaan. Anda telah memindahkan tempat bersemayamnya niat yang tadinya di hati dilarikan ke lisan/mulut. Semua orang setuju bahwa niat letaknya bukan di mulut tapi dihati (Qolbu). 

3. Harus berapa ribu kali Anda harus melafadzkan niat jika setiap hari Anda mesti sholat, berpuasa, mengaji, sekolah, kuliah, makan, minum, tidur dan lain-lain. Anda bisa bayangkan berapa kali mulut kita ini mesti berkomat-kamit hanya untuk melafadzkan itu. Berapa waktu Anda mesti terbuang hanya untuk melakukan itu semua. Bukan kah semua itu ibadah. Kan tidak begitu cara pemikiran yang benar

4. Kalau memang niat itu dilafadzkan adalah perbuatan yang baik, tentu Nabi adalah orang pertama yang menunaikan itu. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali adalah para sahabat nabi adalah orang terdekat beliau dimana mereka hidup selalu bersama beliau. Jadi dari A sampai Z apa yang beliau lakukan mereka melihatnya. Jika memang malafadzkan niat itu baik, pasti para sahabat nabi tersebut tidak akan ketinggalan untuk mengamalkannya pula. Kalau memang seperti itu buktinya, bagaimana mungkin kita yang hidup diakhir zaman bisa melakukan amalan itu. Tentu saja kita lebih berpotensi salah dari pada orang-orang terdahulu. Dan juga kalau itu amalan yang baik, apa mungkin nabi menyembunyikannya?

5. Kalau orang non muslim saja tidak bisa dibohongi apa mungin kita bisa membohongi Allah?
Secara tidak langsung bahwa orang-orang yang menganut melafadzkan niat adalah orang yang terinfeksi penyakit diatas. Mereka beranggapan bahwa ketika niat tidak dilafadzkan Allah tidak mengetahui maksud seseorang. Tentu itu bertentangan dengan banyak ayat Al-quran yang berbunyi tentang masalah hati seperti di Surah Al Mulk ayat 13. 

Lima hal di atas sudah bisa saya jadikan hujjah untuk menolak melafadzkan niat
Sebuah catatan seorang mahasiswa yang minim pengetahuan

Monday, October 21, 2013

Prioritaskan proses terlebih dahulu

Di dalam hidup ini manusia dihadapkan dengan berbagai macam proses kehidupan. Proses itu dapat bersifat alami maupun proses yang ada campur tangan manusia didalamnya. Segala apa yang ada di alam semesta ini tidak lah tercipta dengan “Simsalabim” tentu ada penciptanya yaitu sang pencipta. Saya 100 % haram percaya dengan teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya. Tentu orang bodoh pun tak mau percaya dengan dongeng orang-orang atheis tersebut.

Dalam menciptakan suatu materi, tentu sang pencipta memasukan dua elemen didalamnya yaitu proses dan hasil yang kemudian akan menciptakan suatu materi atau objek yang baru seperti alam semesta, langit, bintang, manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain.

Apapun yang berhasil diciptakan, ditemukan, diselesaikan dan diraih oleh seorang individu (manusia), tentu mengalami berbagai macam proses. Ada yang singkat maupun yang lama. Apa pun itu tanpa memperdulikan sesuatu yang diinginkan tersebut. Hukum ini berlaku selama manusia masih ada di planet bumi ini. Alasan saya menulis sedikit coretan disini bahwa ada suatu hal yang menurut saya sebaiknya dibenahi atau dirubah dalam aspek berpikir manusia.

Hasil dari pengamatan saya (saya bukan seorang peneliti) bahwa manusia di sekitar saya cendrung memprioritaskan hasil dari pada proses. Saya yang saat ini masih berstatus sebagai seorang mahasiswa tentu mengalami fenomena semacam ini. Mayoritas orang tua selalu bertanya kepada anaknya yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, “Nak, kapan kamu selesai kuliah?” atau “Kamu kuliah tinggal berapa semester lagi?”. Saya termasuk orang yang cukup jengkel ketika mendengar pertanyaan seperti itu. Seakan akan pendidikan dimasa kini sudah merupakan tuntutan yang begitu berat bagi mahasiswa dan bukan merupakan suatu kebutuhan dalam menuntut ilmu. Para orang tua hanya bangga ketika sang anak lulus diwisuda dan meraih gelar akademik. Mereka (mahasiswa red) terus menerus didesak oleh hasil. Hampir jarang sekali kita mendengar para orang tua melemparkan pertanyaan seperti, “Nak, bagaimana kuliah kamu?” atau “Gimana kuliah kamu baik-baik saja?”. Kalau pertanyaan ini kan sedikit lebih enak kalau dikonsumsi. Kalau pun kita pernah mendengar pertanyaan tipe ke dua tapi sangat jarang sekali terdengar.

Ada sepasang suami istri sedang berbahagia dengan hamilnya sang istri dan itu menandakan bahwa akan ada kehadiran calon bayi bagi mereka. Ketika berita tersebut tersebar ke keluarga suami istri, rekan kerja, teman sekolah dulu, tetangga dan lain, maka secara spontan sang istri mendapatkan hujan pujian bak durian runtuh. Saking senangnya mereka sampai-sampai mengelus perut si istri. Tapi apakah ada yang memberikan pujuan untuk sang suami? Padahal yang bekerja keras adalah sang suami. .  

Andaikan saja Anda adalah seorang pedagang roti dan Anda telah beroperasi menjajakan dagangan kurang lebih 5 tahun dan belum juga berkembang alias stagnan. Kemudian saya menghampiri Anda dan memberikan pertanyaan, “Pak/Bu, kok hasil jualannya tidak mengalami peningkatan? Kalau begini terus kapan ibu bisa jadi pengusaha roti yang sukses?”. Saya yakin bapak/ibu yang sedang berjualan roti tersebut akan sedikit tersinggung dengan pertanyaan saya tadi karena yang saya fokuskan hanyalah hasil usaha mereka saja dan saya tidak memperhatikan bagaimana mereka membangun usaha dengan berjualan roti tersebut.

Kita tidak pernah melihat bagaimana Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, David Beckham, Steven Gerrad dan lain-lain menjadi pesepakbola dunia yang hebat. Yang kita lihat dari aksi memukau mereka di lapangan hijau saat ini merupakan hasil dari tempaan dan latihan yang berkesinabungan yang mereka tekuni semenjak kecil. Kehebatan mereka tidaklah lahir secara sempontan tapi merupakan sebuah proses yang begitu panjang. 

Dari contoh diatas memiliki kesamaan konsep dan teori yaitu manusia cendrung pada hasil dan bukan pada proses. Mereka mayoritas berfilosofi bahwa yang penting itu adalah hasil dan bukan proses. Saya bukan bermaksud mengkritisi bahwa hasil itu tidak penting dan yang penting adalah proses. Malahan saya berpikir hasil dan proses merupakan dua unsur yang sama-sama penting bagaikan atom bermuatan positif dan atom yang bermuatan negatif yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat terpisahkan. Jika hanya ada atom positif saja atau sebaliknya maka listrik tidak akan pernah ada. Tapi alangkah baiknya Anda lebih memprioritaskan proses dulu baru kemudian hasil.

Maaf kalau tulisan ini banyak yang kurang dan agak sedikit ngawur. .


 

Blogger news

Blogroll

About